A.
PENGERTIAN
AQIDAH
Pengertian
Aqidah secara bahasa (etimology)
Kata
aqidah diambil dari kata dasar al-aqd yaitu al-Rabith (ikatan), al-Ibram
(pengesahan), al-Ahkam (penguatan), al-Tawuts (menjadi kokoh, kuat), al-syadd
bi quwwah (pengikatan dengan kuat), dan al-Itsbat (penetapan).
Aqidah
artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan.
Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan
keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya
pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqaid.
Jadi
kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti
adalah aqidah; baik itu benar atau pun salah.
Pengertian
Aqidah Secara Istilah (Terminologi)
Aqidah
menurut istilah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi
tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang
tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan
B.
AKIDAH,
TAUHID, USHULLUDIN, ILMU KALAM
1. Tauhid
Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah
diikrarkan oleh seorang muslim.
Tauhid menurut salafi dibagi menjadi
3 macam yakni:
a.
Rububiyah
Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan,
menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak
mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Q.S.
Az-Zumar ayat 62:
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala
sesuatu".
b.
Uluhiyah
Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 18:
"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga
menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang
Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana"
Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan
terhadap rububiyah-Nya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita
lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap,
cinta, takut, dan berbagai macam ibadah lainnya. Di mana kita harus memaksudkan
tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang
merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum
musyrikin Quraisy.
Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang
sesuai dengan keagungan-Nya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang
merupakan nama sekaligus sifat Allah.
2. Ushuluddin
Ilmu Ushuludin adalah ilmu yang membahas pokok-pokok (dasar) agama, yaitu
akidah, tauhid, dan I’tikad (keyakinan) tentang rukun Iman yang enam, beriman
kepada
a.
Allah SWT;
b.
Al-Qur’an dan kitab-kitab suci samawi;
c.
Nabi Muhammad dan para Rasul;
d.
Para Malaikat;
e.
Perkara ghaib (alam kubur, alam akhirat, mashar, mizan, sirot, surga-neraka);
dan
f.
Takdir baik dan buruk.
Menurut ulama-ulama
Ahli Sunnah
“Ilmu Ushuluddin ialah ilmu yang
membahas padanya tentang prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil
yang qath’I (Al-Quran dan hadis mutawatir) dan dalil-dalil akal fikiran.”
3. Ilmu Kalam
Pengertian secara harfiah, kata Kalam berarti pembicaraan. Tetapi bukan
dalam arti sehari melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dan
menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam adalah rasionalitas dan logik.
Sehingga ia erat dengan ilmu mantiq/logika.[1][29]
Menurut
istilah, Ibnu Khaldun (1333-1406) menerangkan
“Ilmu Kalam ialah ilmu yang berisi
alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman, dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan berisi
bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan Salaf
dan Ahli Sunnah.”
Ilmu Kalam dikenal sebagai ilmu keislaman yang berdiri sendiri, yakni pada
masa Khalifah Al-Ma’mun (813-833) dari Bani Abbasiyah. Sebelum itu, pembahasan
terhadap kepercayaan Islam tersebut disebut Al Fiqhu Fiddin lawan dari Al Fiqhu
Fil Ilmi.
Adapun ilmu
ini dinamakan juga Ilmu Kalam karena
a.
Persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan
pada abad-abad permulaan hijriah ialah apakah Kalam Allah (Al-Quran) itu qadim
atau hadis. Karena itu keseluruhan Ilmu Kalam ini dinamai dengan salah satu
bagiannya yang terpenting.
b.
Dasar Ilmu Kalam ialah dalil-dalil fikiran dan
pengaruh dalil fikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan para mutakallimin.
Mereka jarang memepergunakan dalil naqli (Al-Quran dan hadis) kecuali sesudah
menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil
fikiran.
Aspek pokok dalam Ilmu Kalam adalah keyakinan akan eksistensi Allah yang
Maha Sempurna, Maha Kuasa, dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan lainnya.
Karena itu pula, ruang lingkup pembahasan dalam Ilmu Kalam yang pokok adalah
a.
Hal-hal yang berhubungan dengan Allah SWT atau yang
sering disebut dengan istilah Mabda. Dalam bagian ini termasuk pula bagian
takdir;
b.
Hal yang berhubungan dengan utusan Allah sebagai
perantara antara manusia dan Allah atau disebut pula washilah meliputi
malaikat, nabi/ rasul, dan kitab-kitab suci; dan
c.
Hal-hal yang
berhubungan dengan hari yang akan
datang, atau disebut juga ma’ad,
meliputi surga, neraka, dan sebagainya.
Sumber utama Ilmu Kalam ialah Al-Quran dan hadis nabi yang menerangkan
tentang wujudnya Allah, sifat-sifat-Nya, dan persoalan akidah Islam lainnya.
Ulama-ulama Islam dengan tekun dan teliti memahami nash-nash yang bertalian
dengan masalah akidah ini, menguraikan dan menganalisisnya, dan masing-masing
golongan memperkuat pendapatnya dengan nash-nash tersebut.
C.
RUANG LINGKUP
AQIDAH
Menurut Hasan
al-Banna sistematika ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:
1. Ilahiyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud Allah dan sifat-sifat Allah, ad’al Alah dan lain-lain
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud Allah dan sifat-sifat Allah, ad’al Alah dan lain-lain
2. Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala seuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang Kitab-Kitab Alah, mu’jizat, dan lain sebagainya.
Yaitu pembahasan tentang segala seuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang Kitab-Kitab Alah, mu’jizat, dan lain sebagainya.
3. Ruhaniyat
Yaitu pembahsasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
Yaitu pembahsasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
4. Sam’iyyat
Yaitu pembahahasan tentang segaa sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’I (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
Yaitu pembahahasan tentang segaa sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’I (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
D.
PRINSIP AQIDAH
Aqidah Islam dasarnya
adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat-Nya, iman kepada
kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari Akhir, dan iman
kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh
Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.
Allah berfirman :
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ
ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ
وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ
وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi
sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (Al Baqarah 177)
Dalam soal
takdir, Allah berfirman:
وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ
بِالْبَصَرِ (49) ا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ نَّ إِ
“Sesungguhnya
Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, dan perintah Kami hanyalah satu
perkataan seperti sekejap mata.” (Al Qomar 49-50)
Nabi juga
bersabda dalam sunnahnya sebagai jawaban terhadap malaikat Jibril ketika
bertanya tentang iman:
اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Iman adalah
engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari Kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim).
Dihimpun dari berbagai sumber....




0 komentar:
Posting Komentar